Rabu, 26 Desember 2012

Sebuah Evaluasi untuk Rumah Ukhuwah Kita Tercinta

#lagi ngeliat file-file lama...eh nemu catatan setahun yang lal.hmhm daripada disimpan di laptop mendingan di share siapa tahu bermanfaat.amin YA Allah

Sebuah Evaluasi untuk Rumah Ukhuwah Kita Tercinta
Oleh Rahma Suci Sentia 
staf SHINE 2010



“Saya (baca: kami) bukan boneka” merupakan teriakan pertama dan utama yang akan saya berikan ketika ditanyai pihak intern FSI tentang apa yang saya rasakan selama setahun menjadi pengurus FSI. Ya, FSI telah kehilangan jati dirinya. FSI kini hanya mampu megenerasikan pengurus-pengurus dengan pola pikir event organizer walaupun niat awal kita event ini dapat menjadi bagian dari syiar dan pelayanan massif. Lantas, apakah berarti FSI masih sekedar berhasil menciptakan kader profesional dalam lingkup manajemen organisasi saja? Menurut saya, tidak juga karena kelompok ini masih menekankan kekeluargaan dan mengabaikan professionalitas.Seperti kata pepatah, “ Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Kasarannya, sudah tidak mendapat kader dakwah, tidak mendapat kader yang professional lagi. Padahal, menjadi seorang manajer atau pakar organizer seharusnya nilai wajib yang melekat sendirinya sebagai seorang kader dakwah. Sebagai kesalahan kita bersama, seharusnyalah kita menyadari selama ini kita kurang menekankan peran pada syiar dan pelayanan rutin untuk ekstern serta kaderisasi untuk intern. Berikut beberapa evaluasi kita bersama yang semoga bisa secara bertahap segera diperbaharui.

1. Belum terasanya penanaman kepada pengurus hingga jajaran staf bahwa setiap mereka adalah kader inti yang akan berperan sekurang-kurangnya sebagai dai FE.
Pemahaman makna dakwah dan aktivis dakwah harus diberikan sedari awal agar kader mengetahui tanggung jawab moral yang dipikulnya serta memiliki landasan niat yang menjadikannya istiqamah dalam menjalankan agenda dakwah. Diharapkan dengan pemahaman ini, proses kaderisasi pun dapat terjamin sehingga setiap tahun FSI bisa menyuplai kader-kadernya tidak hanya untuk berdakwah di FSI tapi di organisasi lain 

2. Nuansa kekeluargaan di intern hanya untuk beberapa orang dan kelompok saja.
Faktanya, saya mengenal beberapa staf FSI yang masih saja tidak tahu dengan pengurus FSI lain. Wajar jika tidak kenal semua tapi sekurang-kurangnya tahulah. Parahnya lagi, mereka tidak juga mengetahui dan mengenal PI (pengurus inti) FSI selain Ketua dan Kaput. Dimanakah letak kesalahannya ini?.
Selain itu, rapat pleno rutin tiap bulan tidak langsung dapat mendekatkan semua pengurus. Terlebih lagi, staf pun bisa lebih tahu gambaran organisasi FSi mereka.
Semoga pngurus sekarang lebih membumi=D

3. Lepas control dalam memastian kondisi akademik kader. 
 Ada baiknya jika FSI bisa membantu kader dalam belajar dalam memanajemen diri, hati, waktu, dan manajemen focus. 

4. Peran FSI sebagai tempat pembinaan dan syiar yang absurd. Kita belum menjadi corong opini terhadap permasalahan yang ada. Lagi-lagi semua harus diselesaikan dengan cara konvensional dan prinsip liberal padahal FSI punya seharusnya member solusi berbeda

5. Terkesan ekslusif; hanya sholeh/ah buat diri sendiri.
Seharusnya FSI mengedepankan dakwah fardiyah dengan dakwah sistem ‘direct selling” serta menjadi sosok teladan di akademis, organisasi, kepanitiaan, agama, dan aspek kehidupan lainnya. Ketika seorang kader FSI berada di masyarakat FE seharusnya keberadaannya dirasakan berbeda oleh disekitarnya. Perbedaan ini dapat dirasakan dengan adanya nilai ruhiyah yang dibawa kader (selama ini, seolah peran ini hanya dimainkan ketua FSI atau FSI saja). Dimulai dari hal kecil seperti rapat kepanitiaan dimulai dan diakhiri doa/tilawah/kultum atau “senyum, sapa, salam” menjadi kebiasaan. Mudah, bukan? Tapi efeknya luar biasa (saya pun merasakan nilai ini sangat jarang saya terapkan juga)

6. Terkesan sebagai Event organizer yang bersifat masif saja. Mengapa kita tidak mengadakan kegiatan keislaman secara berkala (dalam hal ini,syiar di kalangan muslimah sudah mulai terasa dengan adanya fungsi MLC tapi ketika sharing dengan beberapa ikhwan , saya baru tahu bahwa mereka belum merasakan sedikitpun pengenalan islam dari FSI)

7. Belum adanya Sinergisme internal atas peran FSI sebagai Lembaga Dakwah Kampus dan/ atau Kelompok Studi Ekonomi Islam ( KSEI)dan/ atau Lembaga dakwah Fakultas Berbasis Kompetensi Ekonomi
Wacana ini saya kemukan karena melihat hasil survey Humalum tahun 2010 yang menyimpulkan bahwa peran kedua FSI menurut civitas akademika yang paling penting adalah “membumikan ekonomi islam di FE”. Tak ayal, kita tidak boleh menghiraukan keinginan mereka. Akan tetapi, kondisinya memperlihatkan bahwa sampai sekarang fungsi penting tersebut masih terkosentrasi pada satu divisi, yakni SHINE (penjelasan lebih lanjut ada di Essay saya tentang evaluasi departemen SHINE)

FE yang terkesan hedon, individual, kapitalis, liberal merupakan tantangan tersendiri bagi FSI FE dalam dakwahnya. FSIers mesti memformulakan bagaimana supaya sifat-sifat ini dapat terkontrol dalam frame islami. Menurut saya, dakwah FSI harus memiliki strategi yang membumi dengan memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh objek dakwahnya bukan apa yang kita rasa mereka perlukan. Melakukan survey dengan menyebar kuisioner bersifat normative serta evaluatif terhadap kebutuhan objek sangat dianjurkan. Membumikan islam di FE pastilah harus dengan bahasa bumi (universal) sehingga pesan yang hendak dikrimkan dapat diterima dengan baik. Sayangnya, kita sering menggunakan bahasa dewa atau terkesan memaksa atau bukan di saat yang tepat dan ditempat yang tepat, yang tak jarang malah membuat objek menghindar bahkan tidak senang dengan kader. Selain itu, tak salah jika FSi mengadakan rapat atau kajian outdoor di tempat strategis yang mudah dilihat objek seperti selasar dekanat.

Dari analisa saya secara umum ada dua tipe mayoritas anak FE yaitu mereka menyukai sesuatu yang beraroma baru dan terkesan ilmiah dan kompetisi; menyenangi hal-hal yang sesuai dengan kepribadian mereka. Maka pendekatan terbaik terhadap objek adalah dengan membuat strategi berdasarkan tipe. Tipe pertama bisa didekati dengan mengenalkan ekonomi islam dalam paket berbeda samapi berdakwah dengan media propaganda, yang mengandung sugesti. Tipe kedua, dapt didekati dengan acara having fun tapi tetap menonjolkan keislamian kita atau FSI berkunjung misal ke MSS untuk sekedar belajar manajemen organisasi dari mereka/ studi banding informal . Diharapkan objek yang biasanya mancari jarak dari kader, enggan dengan sesuatu yang berbau ruhiyah lambat laun mulai tersadarkan.Amin.insyaallah

FE madani. In harmonia progression!!!=D

“Berharap adanya tahap peningkatann skala dan kualitas dakwah setiap tahunnya”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar