Sabtu, 16 Maret 2013

Jejak Langkah di Kampus Perjuangan


Jejak Langkah di Kampus Perjuangan


ALFAN PRESEKAL


Pagi itu, saya berada di ketinggian 36.000 kaki dalam penerbangan melalui  polar route menuju ke arah kutub utara. Ketika saya mencoba mengintip melalui jendela pesawat, yang tampak hanya hamparan lautan luas dan sesekali terlihat bongkahan es yang terapung di tengah lautan. Langit tampak begitu menakjubkan dengan gradasi warna dari biru ke jingga diselingi awan tipis seperti guratan kuas di atas kanvas raksasa. Kemudian, seorang wanita menyapa saya sembari berkata, “Could you close the window please?”. Sebagai orang yang baru mengawali jam terbangnya, saya segera menuruti permintaannya. Hari itu adalah pertama kalinya saya merasakan perjalanan  menggunakan pesawat udara. Dengan nomor penerbangan CX 798, saya dalam perjalanan menuju John F. Kennedy Airport di New York, Amerika Serikat. Apa yang saya alami laksana sebuah mimpi yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dalam renungan yang menembus ruang dan waktu, saya akan memulai kisah cerita ini.
Tidak pernah terbayang sama sekali di benak saya sejak saya kecil untuk kuliah di Univeristas Indonesia. Saya baru sedikit mengenal nama kampus ini ketika saya sudah berada di akhir-akhir masa SMA. Itu pun berkat kebaikan beberapa orang mahasiswa UI yang mau menyambangi sekolah saya sambil melakukan sosialisasi. Masa itu merupakan saat-saat yang menentukan bagi perjalanan hidup saya ke depan. Ya, saya harus memutuskan ke manakah saya akan melanjutkan pendidikan pasca-SMA. Setelah mendengar informasi mengenai kampus UI, saya mencoba bertanya kepada orang tua, “Apa boleh kalau seandainya saya kuliah di UI ?”. Saat itu, secara tegas kedua orang tua saya menyatakan kurang setuju terhadap niat saya. 
Keluarga kami adalah keluarga pendidik. Kakek, paman, bibi, hingga kedua orang tua memiliki latar belakang dan profesi yang berafiliasi dengan dunia pendidikan. Profesi sebagai seorang guru tidak cukup keren  dibandingkan dengan profesi yang lebih berkelas seperti dokter ataupun insinyur. Namun, bagi keluarga kami, profesi gurulah yang menjadi tulang punggung untuk menjalani roda kehidupan. Berangkat dari latar belakang itulah, kedua orang tua saya sangat menyarankan agar saya melanjutkan pendidikan di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Saran mereka semakin kuat setelah melihat fakta saat itu bahwa profesi guru akan diiming-imingi oleh apa yang sering disebut tunjangan sertifikasi. Pada kenyataanya, apa yang ada di benak saya berbeda dengan apa yang diharapkan kedua orang tua. Sejak berada di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya memiliki ketertarikan terhadap dunia teknologi informasi. Waktu saya banyak saya habiskan bergulat dengan komputer. Di masa SMA, saya membaca sebuah buku berjudul Filosofi Naïf Dunia Cyber yang ditulis oleh Onno W. Purbo. Apa yang disampaikan di dalam buku tersebut seperti membentuk sebuah ideologi dalam pemikiran saya. Hal ini semakin menumbuhkan gairah saya terhadap dunia teknologi informasi.
Di akhir-akhir masa SMA, muncul kesempatan untuk mendaftar ke Universitas Indonesia melalui jalur PPKB. Dapat dibilang, sangat sedikit rekan-rekan saya yang berminat untuk melanjutkan kuliah di UI. Bagi kami anak daerah, kuliah di kota besar selalu disangkutpautkan dengan masalah biaya yang mahal, masalah pergaulan, dan berbagai hal negatif lainya. Namun, saya mencoba berpikir berbeda. Saya justru melihat kesempatan tersebut sebagai sebuah peluang untuk “lari” dari apa yang diharapkan orang tua. Akhirnya, saya diterima di UI. Saya baru mengabarkan kepada orang tua setelah saya diterima sebagai mahasiswa UI. Orang tua saya memberikan izin meskipun kabar diterimanya saya sebagai mahasiswa UI bukanlah suatu hal yang “menggembirakan” bagi mereka. Namun, dari sinilah muncul tantangan yang secara bertahap mengajarkan saya untuk menjadi seseorang yang luar biasa. Hal pertama yang muncul adalah masalah biaya kuliah. Terus terang biaya kuliah yang dibebankan UI dapat dibilang tidak rasional apabila melihat kondisi ekonomi keluarga saya. Belum lagi biaya tanggungan lainnya, mulai dari biaya tempat tinggal, uang makan, dan berbagai kebutuhan mahasiswa lainya.  Kami sekeluarga berpikir untuk mencari solusi. Meskipun upaya advokasi sebagaimana mekanisme yang ditentukan oleh pihak universitas telah dilakukan, tetapi hal tersebut belum bisa menjadi obat penawar atas permasalahan saya. Sempat saya berada pada suatu titik yang mengajak saya untuk membatalkan niat kuliah di UI. Namun, secercah harapan muncul ketika saya mendapat tawaran dari paman untuk tinggal di rumahnya. Meskipun hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah terkait biaya kuliah, setidaknya saya akan dapat bertahan hidup. Namun, di sisi lain, saya tetap memikirkan bagaimana nanti kedua orang tua harus berupaya untuk mencukupi biaya kuliah.
Perjuangan saya dimulai saat menjalani kehidupan awal sebagai mahasiswa. Di awal itulah, saya bertekad bahwa saya datang ke kampus ini bukan sekadar untuk kuliah. Saya harus bertindak untuk dapat meringankan beban orang tua yang harus membiayai kuliah. Beberapa bulan pertama di UI merupakan salah satu masa tersulit yang saya alami. Dengan keterbatasan finansial, saya harus mencoba bertahan dan meyakinkan kedua orang tua bahwa pilihan saya tidak salah.
Di kampus, berbagai hal saya jelajahi mulai dari organisasi mahasiswa tingkat jurusan hingga tingkat universitas. Saya juga mencoba mengikuti berbagai macam kompetisi. Terus terang, peluang untuk mengikuti berbagai perlombaan terbuka luas saat saya berada di UI. Hal tersebut sangat berbeda ketika saya duduk di bangku sekolah. Saat di sekolah, siswa yang mengikuti lomba pada umumnya diajukan oleh pihak sekolah. Pihak sekolah seringkali memilih siswa yang memiliki nilai akademis yang baik untuk mengikuti kompetisi. Sebagai orang yang memiliki kemampuan akademis menengah, saya jarang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti beragam kompetisi. Faktor disparitas informasi antara daerah dan kota juga menjadi faktor yang menyebabkan saya jarang ikut kompetisi. Ketika saya di sekolah, informasi yang saya dapatkan tidak sebanyak ketika di UI.
Beragam kompetisi dan peluang untuk berprestasi yang ditawarkan ketika saya menyandang gelar mahasiswa, dapat diibaratkan ladang hijau nan luas yang memberikan lahan bagi saya untuk melakukan eksplorasi. Sejak semester awal berada UI, beragam kompetisi saya ikuti untuk memenuhi keinginan saya. Namun, dari sekian banyak kompetisi dan perlombaan yang saya ikuti di awal tahun saya di UI, belum ada satupun yang berbuah prestasi. Satu hal yang pasti, setidaknya melalui ajang coba-coba tersebut saya mendapatkan pengalaman.
Di balik kegagalan-kegagalan saya dalam mengikuti beragam kompetisi, saya meyakini sebuah filosofi mengenai hukum kekekalan energi. Sedikit mengulas pelajaran fisika yang menjadi pelajaran favorit saya, kita tahu bahwa,


Energi mekanik = Energi potensial + Energi kinetik
 
 



Setiap upaya yang kita lakukan akan terakumulasi ke dalam energi mekanik. Semakin banyak usaha dan kerja keras yang kita lakukan, semakin besar pula energi mekanik yang kita miliki. Sementara itu, total energi mekanik yang kita miliki dapat dikonversi menjadi energi potensial ataupun energi kinetik. Energi kinetik itu seperti halnya kesuksesan atau prestasi yang sudah terealisasi, sementara energi potensial adalah kesuksesan atau prestasi yang masih tersimpan energinya dan menunggu waktu untuk terlepaskan menjadi sebuah kesuksesan yang terealisasi.
Bagi kita yang telah berupaya keras dan belum membuahkan hasil, jangan khawatir sebab upaya yang kita lakukan tidaklah sia-sia. Akan tetapi, upaya yang kita lakukan masih tersimpan energinya dalam bentuk energi potensial yang sewaktu-waktu dapat terlepas. Semakin besar energi yang tersimpan, semakin besar pula energi yang dilepaskan. Mari bersabar dan terus berupaya untuk menggapai keseuksesan.
Beragam pilihan dapat kita jumpai di kampus, mulai dari pilihan untuk menjadi aktivis pergerakan, aktivis kerohanian, aktivis dalam bidang keilmuan, atau bahkan pilihan menjadi mahasiswa biasa yang menjalani kuliah “sekadarnya”. Namun, bagi saya, hidup di kampus itu tidak boleh “sekadarnya”. Minat saya membawa saya untuk lebih mendalami bidang keilmuan yang relevan dengan jurusan Teknik Komputer di Departemen Teknik Elektro UI. Namun, saya juga sempat mencicipi rasanya menjadi aktivis di beberapa organisasi pergerakan kampus.
Buah dari upaya dan kesabaran yang saya lakukan akhirnya mendatangkan hasil. Alhamdulillah, sejak tahun kedua, saya mendapatkan beasiswa sehingga dapat memenuhi biaya kuliah dan biaya hidup. Saat itu, saya sedikit dapat membuktikan bahwa dengan usaha dan kesabaran, kita akan dapat menyelesaian masalah dan menggapai yang kita cita-citakan. Saya pun mulai bermimpi untuk merealisasikan keinginan saya agar kelak menjadi mahasiswa yang bukan “sekedarnya”. Berkatian dengan mimpi saya tersebut, saya teringat suatu perkataan: bermimpilah, selagi mimpi itu gratis.
Pada bulan Mei 2011, tim saya berhasil menjadi yang terbaik di tingkat nasional dalam kompetisi Imagine Cup. Tim saya mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Microsoft di New York, Amerika Serikat. Meskipun tim kami tidak dapat menjadi yang terbaik dan hanya mampu masuk hingga 15 terbaik dunia, hal tersebut memberikan pengalaman yang begitu berharga bagi saya untuk terus berusaha, berdoa, dan tidak berhenti bermimpi.
Saya tidak pernah sekalipun mewakili sekolah dalam pemilihan siswa teladan karena secara akademis, prestasi saya tidak mengagumkan sehingga tidak bisa menarik perhatian para guru di sekolah untuk menominasikan nama saya. Namun, ketika di kampus, saya mendapatkan peluang yang berbeda. Terdapat kompetisi di kampus yang melakukan pemilihan bagi mahasiswa berprestasi yang mungkin di mata saya dapat diasosiasikan dengan pemilihan siswa teladan di sekolah. Namun, ada satu yang berbeda. Di kampus, untuk mengikuti kompetisi tidak perlu dinominasikan, melainkan dipersilahkan secara terbuka bagi mahasiswa yang mau mengajukan diri. Akhirnya, saya mencoba mengikuti kompetisi tersebut. Sebagai mahasiswa yang bukan siapa-siapa, saya cukup beruntung sampai mendapatkan kesempatan menjadi yang terbaik di tingkat fakultas dan juara kedua di tingkat universitas.
Mimpi lain saya yang terealisasi adalah mendapat kesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri. Alhamdulillah, saat ini, hal tersebut telah terlaksana. Adapun impian saya yang belum terealisasi di antaranya adalah saya ingin menjadi ahli dalam bidang Cyber Security, membawa kedua orang tua saya naik haji, serta menempuh pendidikan di Negeri Paman Sam. Meskipun belum terwujud hari ini, esok, dan hari-hari seterusnya, saya akan terus bermimpi, terus berusaha, dan terus berdoa untuk menapakkan jejak demi jejak demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

~ Salam UILDP ~

Tokyo, 21 November 2012




Tidak ada komentar:

Posting Komentar