Rabu, 26 Desember 2012

Menelusuri Mimpi Anak Negeri di Bantaran Kali Manggarai

Menelusuri Mimpi Anak Negeri di Bantaran Kali Manggarai 

by Elcenter Bem Feui on Tuesday, 26 July 2011 at 11:43 ·

Pemandangan di bantaran kali itu jauh dari apa yang disebut indah.
Limpahan air yang mengisi liukan kalinya mengalir dengan deras.
Tapi sayang, keruh, kotor, diwarnai hasil karya manusia bernama sampah.
Pasar dan pemukiman di sampingnya tampak begitu hidup.
Tapi sayang, kumuh, jauh dari layak, diwarnai preman, perampok, dan penjudi.
Anak-anak tengah bersenda gurau sambil  tertawa terbahak-bahak.
Tapi sayang, lingkungannya tak memberi mereka luapan mimpi maupun cita-cita.
Dan di sanalah kami tengah berdiri.
Melihat potret ibu pertiwi.
Menelusuri mimpi dari beratus anak negeri.
Di Bantaran Kali Manggarai.


Nenek di Jembatan
  

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS Luqman :14) 

Seorang nenek tengah duduk pada sehelai karung yang dihamparkan di tepi jembatan kali Manggarai. Orang-orang yang lewat di depannya sesekali memberinya sedikit uang recehan atau selembar uang ribuan. Setelahnya sang nenek membalas orang-orang itu dengan ucapan terima kasih dalam bahasa yang tak saya kenal. Penasaran, saya dan beberapa teman mencoba untuk bercakap-cakap dengan sang nenek. Tapi sia-sia, tak ada sepatah kata pun yang kami pahami. Bahasanya bukan bahasa Jawa, juga bukan bahasa Sunda. Untungnya, penjual gorengan di pinggir tempat nenek duduk itu membantu menceritakan sepenggal kisah sang nenek. Beliau berasal dari Indramayu dan punya banyak anak. Tapi anak-anaknya  tak ada yang hidup di Jakarta atau sedikitnya membalas budi, berbelas kasihan membawa ibunya tinggal bersama mereka. Alih-alih mengurus ibu yang kini telah tua renta dan miskin, tiap bulan mereka biasa datang ke gubuk reyot sang nenek di kawasan kumuh Manggarai dan mengambil hasil “kerja” ibunya yang telah dikumpulkan selama berhari-hari itu. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anak pada ibunya. Namun, saat itu mungkin sang ibu hanya akan tersenyum sambil berkata “Ambillah Nak, semoga bisa membantu kehidupanmu dan keluargamu.” Dan dengan ikhlasnya memberikan seluruh jerih payahnya pada anak-anak yang tak tahu balas budi itu.

Sebagai orang yang masih memiliki seorang nenek, ingin sekali rasanya saya menolong nenek itu. Tapi apa daya, untuk saat itu yang bisa saya lakukan hanya menyisihkan uang yang saya miliki dan berdoa mudah-mudahan beliau diberi kelapangan rezeki dan semoga anak-anaknya dibukakan pintu hidayah untuk berbakti pada ibunya yang usianya sudah sangat senja.

Sedikit merenung, seandainya ayah, ibu, atau nenek kita sendiri telah mulai renta, sedang kita telah berkeluarga, apa yang akan kita lakukan pada mereka? Akankah kita mau mengurus, memandikan, menyuapi, dan bahkan menceboki mereka seperti apa yang telah mereka lakukan saat kita dalam buaian? Atau kita justru bergidik jijik lantas menggelandangkan mereka di pinggiran kota, menyuruh mereka mengemis di pinggiran jalan, dan kemudian menikmati hasilnya? Naudzubillah.

“Ya Allah, ampunilah dosaku, dan dosa kedua orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”


Farah dan Pria

  
               
Hari Jumat yang panas. Para pria mulai ramai pergi ke masjid terdekat untuk menunaikan Shalat Jumat, sedang kami masih berada di Manggarai, tepatnya masuk lebih dalam ke pemukiman kumuh di pinggir kali itu, mencari anak-anak.
Tepat di pinggir kali, ada satu kakus terbuka. Kakus yang kotorannya akan langsung dialirkan ke kali. Membuat kali itu semakin cokelat dan kotor. Namun, betapapun kotor dan tidak sehatnya kali itu, di pagi hari, orang-orang di sana masih menggunakannya untuk minum, mandi, dan mencuci.

Kakus itu tidak kosong. Setelah menunggu beberapa lama, dua orang anak keluar dari sana. Namanya Farah dan Pria. Gadis kecil bernama Pria ini cantik sekali. Belakangan kami baru tahu bahwa kebanyakan wanita di daerah ini menikah dengan orang luar atau orang keturunan yang ada di tempatnya bekerja. Tak heran, banyak anak-anak cantik keturunan yang kami temui di sini.


Anak-Anak Manggarai

Farah dan Pria, seperti halnya kebanyakan anak Manggarai lainnya, ternyata mengenyam pendidikan formal di sekolah. Tingkat kesadaran masyarakat Manggarai akan pentingnya pendidikan tampaknya sudah cukup tinggi. Namun,  amat disayangkan, pendidikan formal yang mereka dapatkan dari sekolah tidak diiringi pendidikan karakter yang baik dari orang tuanya. Anak-anak tumbuh di tengah kekerasan yang seringkali dilakukan oleh sang ayah terhadap ibunya.  Rumah yang sangat sempit dan diisi oleh rata-rata 5-6 orang anggota keluarga itu juga memungkinkan mereka seringkali mendapatkan “sex-education” secara alamiah saat melihat orangtuanya berhubungan. Hal ini diperparah dengan maraknya peredaran narkoba di kawasan tersebut. Tentunya dapat kita bayangkan seperti apa karakter anak yang terbentuk dari lingkungan yang demikian parah itu.

Anak Keriting

  

                Pada kunjungan kedua kami ke Manggarai, kami melihat seorang gadis kecil berambut keriting. Umurnya sekitar 2 atau 3 tahun. Wajahnya manis sekali tapi sayang sorot matanya terlihat sangat kejam. Di lehernya terdapat luka memar dan di pahanya ada semacam luka sundutan rokok (semoga saya salah). Tapi yang membuat saya sangat tercengang adalah sikap anak ini yang sangat kasar. Malam itu, anak-anak pria tengah bermain di luar dan anak-anak wanita sebagian menonton di tangga musholla. Anak keriting ini tiba-tiba menghampiri gadis kecil lain yang lebih tua darinya, kemudian mulai menjambaki dan memukulinya. Gadis kecil yang lebih tua itu hanya diam tak berani melawan. Rambutnya yang panjang terus dijambaki si keriting. Kakak si kertiting yang melihatnya lalu melerai mereka dan meminta si rambut panjang berpindah tempat duduk. Tak lama kemudian si keriting kembali menghampiri si rambut panjang dan kembali melakukan hal serupa dengan sangat kasar. Si rambut panjang lantas menunduk dan menangis sementara si keriting terus menjambakinya.

Gerakan Kecil dari Seorang FPI

  
               
Dua tahun silam, seorang tukang ojek, yang juga aktif dalam Ormas Front Pembela Islam (FPI) membuat sebuah gerakan kecil namun berarti di pemukiman itu. Heru namanya. Di sebuah ruangan sempit yang disulap menjadi musholla kecil, ia mulai melakukan dakwah dan mengajarkan anak-anak mengaji.

                Malam itu, kami tiba di sana. Tabuhan rebbana, dan lantunan shalawat tengah dikumandangkan oleh anak-anak. Tak lama, shalawat dihentikan, dan Heru mulai memberikan ceramah. Topiknya : Abu Bakar Ba’Asyir. Dia berkata dengan lantang bahwa jika ada yang mengatakan Abu Bakar Ba’Asyir adalah seorang teroris, maka orang itu harus mengahadap padanya, dengan yakin dia menyatakan bahwa sesungguhnya Abu Bakar Ba’Asyir adalah pejuang Islam sesungguhnya.

                Ceramah kemudian dilanjutkan dengan topik-topik yang menurut saya cukup berat dan radikal untuk disampaikan pada anak-anak. Heru mengecam dengan keras wanita-wanita yang menggunakan pakaian-pakaian tidak senonoh dan berkata seharusnya wanita-wanita itu ditindak dengan tegas. Sekitar 20 menit lamanya ceramah dengan topik-topik serupa  diberikan, meski dengan pembawaan yang santai dan menyenangkan. Tak heran meskipun baru 2 tahun, Heru bisa menarik perhatian banyak anak ke pengajian itu.

                Di akhir kunjungan malam itu, kami menyempatkan diri untuk sedikit berbincang dengan Heru di rumahnya. Isi rumahnya benar-benar membuat kami terbelalak karena dipenuhi poster-poster aktivis Saddam Hussein, Abu Bakar Ba’Asyir, Amrozi, dkk. Namun, terlepas dari pemikiran dan gaya radikal yang ia bawakan, kami benar-benar salut padanya. Ia adalah inspirasi yang luar biasa. Di tengah keadaan lingkungannya yang sarat akan kriminalitas, ia berani untuk berbeda, berani membuat gebrakan, mengawali perubahan,  dan memberikan nilai positif pada anak-anak Manggarai. Dalam jangka panjang, radikalisme yang ia ajarkan mungkin berpengaruh kurang baik pada anak-anak, namun, hingga saat ini, dengan keberadaan pengajian itu anak-anak mulai mengenal akidah, shalat, dan secara kontinu kecanduan anak-anak terhadap narkoba di kawasan Manggarai pun dapat berkurang.


MImpi Kami dan Mimpi Mereka

  

Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future
-  John Fitzgerald Kennedy

Sebelum kami bersentuhan dengan Manggarai, jauh-jauh hari, saya, Sentia, dan Via telah merumuskan sebuah proyek pendidikan dan pengembangan karakter anak-anak marjinal untuk diajukan sebagai program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat. Kami yakin bahwa salah satu cara memutus rantai kemiskinan negeri ini bisa kami lakukan lewat anak-anak. Anak-anak marjinal perlu mendapatkan pembinaan dan pengasuhan yang bisa membuat mereka mau bermimpi dan mau berubah. Dengan hal itu diharapkan mereka bisa sadar, bangkit, dan bisa menjadi pioneer perubahan bagi lingkungannya sendiri. Karena, kembali mengutip Al Quran ;

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendii.” (QS: Ar-Ra’d: 11).  

Saat kunjungan kedua kalinya ke Manggarai, ada sebuah momen yang membuat saya sangat terharu sampai menitikkan air mata. Tiba di pengajian, selesai ceramah, Heru segera memperkenalkan kami pada anak-anak dan meminta mereka mendoakan keselamatan dan rahmat bagi kami. Padahal tujuan kami saat itu hanya untuk survey. Bahkan kami belum tahu dengan pasti apa yang bisa kami berikan pada mereka, tapi dengan tulusnya anak-anak itu melantunkan doa yang sangat manis bagi kami bertiga :’)

Kunjungan kami ke Manggarai telah menyentuh hati dan menginspirasi kami. Berapa banyak anak-anak lain yang hidup seperti mereka, bahkan dalam kondisi yang lebih buruk di luar sana. Tujuan kami haruslah lebih besar dari sekedar lolos PIMNAS. Ini jelas sebuah proyek besar jangka panjang, Pendidikan karakter bukanlah hal yang bisa dilakukan 1 atau dua hari saja, dan yang membutuhkannya tidak hanya anak-anak di Manggarai.

Saat ini, mungkin mereka tidak tumbuh sebagai anak-anak yang dilimpahi rasa keingintahuan yang besar maupun cita-cita yang tinggi. Mereka tumbuh dengan sikap inferior, malas, dan kasar dalam keengganan untuk bermimpi. Tanpa adanya mimpi dan kemauan untuk berubah, takkan pernah ada perubahan pada lingkaran setan kemiskinan di bantaran kali Manggarai. Karena itulah kami coba untuk mulai bergerak memulai perubahan, merealisasikan sebuah mimpi. Mimpi agar anak-anak Manggarai bisa hidup dengan mimpi-mimpi besar dan tumbuh menjadi manusia berkarakter.
Sebait puisi Sangggarai dari teman saya Via:

“Kami tidak hanya bermain kata-kata. 
Kami buktikan kepedulian dalam aksi nyata.  
Kami sadar tidak dapat berdiri sendiri menyelesaikan persoalan bangsa ini.  
Tapi yang pasti, Kami tidak akan berdiam diri.  
Bersama teman-teman hingga pelosok negeri, Kami akan membangun bangsa ini.  
Menciptakan anak-anak berkarakter, cerminan anak Indonesia di era globalisasi.”

Dan bagi mereka yang peduli, bagi mereka ingin menjadi bagian dari perubahan besar, bagi mereka yang ingin menjadi solusi permasalahan bangsa ini, mari bergabung dengan kami di Program Sanggarai (Sanggar Anak Manggarai). Karena sesungguhnya, jika kita bukan bagian dari pemecahanan masalah, maka kita adalah bagian dari permasalahan itu sendiri.

Siti Nurfitriani
Wakil Kepala Departemen Kewirausahaan dan Kepemimpinan BEM FEUI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar